Welcome

23/05/11

Diam-Diam, ku Mengagumimu


Mengingat wajahmu, sebuah cara bagiku untuk mendapatkan tenaga baru, semangat baru, inspirasi baru, dan motivasi baru. Bagaimana tidak, hidungmu yang mancung, jidatmu yang lebar, bibirmu yang tipis, mata yang sedikit sipit karena kelelahan, membuat mataku tak bosan memandagimu. Kau satu-satunya orang yang telah merubahku lewat cerita-ceritamu. Ya…kau selalu menceritakan masa lalumu. Kau bilang, “aku adalah seorang anak desa, yang terlahir di sebuah desa kecil, dengan kehidupan yang serba terbatas. Ayahku yang hanya seorang buruh tani tak mampu atau bahkan hanya sekedar untuk membeli makanan yang cukup. Ya, cukup untuk makan delapan orang di rumah mungi kami. Jangankan untuk membeli makanan enak. Yang mencukupi dan mengisi perutku hingga benar-benar terisi saja belum bisa. Sehingga kami punya cara unik, untuk memperbanyak porsi nasi yang ada. Kami sering mencampur nasi dengan pisang. Pisang mentah yang hanya kami buang kulit terluarnya saja, tipis saja, agar kulit yang putihnya bisa termakan juga.”
Kau selalu bercerita kepadaku tentang semua hal, terutama semua hal tentangmu.Katamu, “sebagai anak lelaki kedua dikeluarga, aku selalu berpikir bagaimana bisa merubah status sosial keluarga. Dari yang kekurangan menjadi berkecukupan. Dari yang tidak berpendidikan menjadi berpendidikan. Dan dari yang hanya pelayan menjadi tuan. Satu-satunya cara, ya dengan bersekolah. Hanya itu syarat yang aku tahu, agar nasib aku tidak seperti ayah dan kakak-kakak yang hanya menjadi buruh tani di ladang orang. Begitu pun dengan adik-adikku, mereka harus bisa maju dan mendapatkan pendidikan yang layak. Emak sangat sabar, semangat, dan sederhana. Setiap pagi sebelum adik-adikku pergi ke sekolah, beliau selalu membuat makanan. Tapi akung…, makanan itu bukan untuk dimakan oleh kami sekeluarga, ya…gorengan yang Emak buat itu untuk dijual oleh kedua adikku yang sedang duduk di Sekolah Dasar (SD). Hanya sedikit saja yang boleh dimakan, agar Emak tidak rugi.
Kedua adik perempuanku sangat semangat untuk berjualan gorengan buatan Emak. Tidak ada rasa malu atau gengsi untuk berjualan, ya…mereka berpikiran yang sama denganku. Bagaimana bisa meneruskan pendidikan setinggi-tingginya. Kami bertiga adalah sebuah tim yang kompak di keluarga, tim penyemangat, tim sukses, dan tim perubahan. Saatnya waktu kelulusan tiba.  Alhamdulillah, aku benar-benar lulus dari SD. Kebahagiaan yang bercampur bingung mulai menyerangku. Meneruskan sekolah, mungkinkah??? Aku bingung!!! Dengan apa aku harus membiayai sekolahku nanti? Jangankan untuk biaya meneruskan sekolah, untuk makan sehari-hari saja, masih sangat kurang. Tapi…
Aku tidak mau menyerah, bukan aku kalau menyerah. Ketiadaan biaya, jarak yang jauh, tidak boleh menghalangiku untuk meraih masa depan yang lebih baik. Hanya dengan modal nekad, aku akan meneruskan sekolahku ke sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang paling dekat dengan desaku. MTs yang paling dekat dengan desaku harus ditempuh sekitar dua jam dengan jalan kaki. Tidak ada kendaraan yang bisa aku tumpangi.  Beruntung,  jalannya bukan aspal hitam yang dapat menggerogoti sepatu, sandal, dan kakiku. Jalan menuju ke MTs itu masih tanah, berupa tanah liat dan sebagian ada yang berlumpur. Kalau musim hujan tiba, biasanya ku biarkan kaki tanpa alas, karena jalan menjadi sangat licin, dan yang berlumpur bisa menenggelamkan kakiku hingga betis. Ah…semua itu tidak bisa melemahkanku. Aku harus lebih baik dengan berpendidikan. Tekadku!!!
Meneruskan sekolah merupakan ide yang dianggap gila oleh orang disekelilingku. Banyak pertanyaan dan anggapan aneh dari tetangga dekat dan jauh. “kunaon heunteu gawe bae, hasilna jelas, bisa jeung dahar”[1]. Ya…masuk akal memang, kalau aku bekerja menjadi buruh tani, hasilnya bisa langsung dinikmati. Setidaknya, dapat mencukupi makan sehari-hari. Lagi-lagi biaya, ya dengan nekad aja rasanya gak cukup. Apa pihak sekolah mau menerimaku??? Pikirku. Ku terus berjalan menyusuri hutan, ladang dan sesekali perkampungan kecil. Sebelah kanan-kiri jalan masih berupa hutan dan ladang. Hanya sedikit perkampungan yang aku lewati, jarak perkampungan yang satu dengan lainnya kurang lebih tiga kilometer. Setibanya di sekolah, aku hanya menyerahkan diri. Dengan modal keberanian, aku bilang, aku ingin sekolah, tapi tidak ada biaya sedikitpun. Aku akan berusaha pak, mohon terima aku! Seketika, aku teringat pada pohon kayu yang ada di ladang kecilku, kayu yang ditanam ayahku puluhan tahun lalu. Sontak, langsung ku tawarkan kayu itu, sebagai ganti bayar SPP dan biaya masukku. Tanpa berpikir panjang, guru yang ku temui saat itu langsung menerima. Ya…kayu itu bisa digunakan untuk bahan pintu, kusen, dan lain-lain. Untuk membangun sekolah atau memperbaiki yang sudah ada. Tawarku padanya.
sesuai kesepakatan kemarin, ku pikul kayu-kayu yang sudah aku tebang dengan ayahku. Kayu-kayu itu, ku pikul di pundak beliaku. Usiaku yang baru seumur anak lulus SD sudah harus belajar memikul kayu yang bebannya lebih dari 30 kilogram-dengan jalan kaki sepanjang sepuluh kilometer. Kalau tidak begini, ya…tidak sekolah!!! Hanya itulah satu-satunya pilihanku untuk dapat bersekolah. Setibanya di sekolah, ku serahkan kayu-kayu itu melalui guru yang aku temui kemarin. Guru yang baru ku tahu namanya  itu, menerima kayu-kayu itu dengan senang hati. Tak hanya menerima kayu-kayu yang aku bawa. Saat beliau mengetahui jarak rumahku yang jauh, beliau menawarkan agar aku tinggal di kobong[2] miliknya. Kobong??? Tanyaku. Bagaimana dengan keluargaku.
Tawaran guru yang baru ku kenal itu tak aku abaikan. Ku diskusikan dengan keluargaku. Hasilnya disepakati, dengan catatan setiap hari libur, aku harus pulang untuk membantu ayah kuli di ladang cengkih dan mencangkul di sawah. Aku tak keberatan dengan syarat yang diajukkan. Keesokan harinya aku pergi dengan perlengkapan seadanya untuk tinggal di kobong. Setibanya dikobong, aku disambut hangat oleh istri guruku. Ku letakkan barang-barangku dan siap menyongsong hidup baru. Makan pertamaku dEmakatkan oleh istri guruku, puji syukur ku panjatkan. Aku mendapatkan makan yang jauh lebih enak dan mengenyangkan.
Tak terasa sudah hampir sebulan aku tinggal di kobong. Kobong itu menjadi rumah kedua bagiku. Rumah dimana aku bisa belajar lebih. Selain belajar formal di sekolah. Guruku di sekolah ya guruku di kobong juga. beliau menambahkan pengetahuan agama kepadaku. Setiap hari, setelah sholat maghrib semua murid yang tinggal di kobong, wajib mengaji Qur’an dan kitab. Ada beberapa kitab yang aku pelajari saat itu, mulai dari ta’liim mu taa’liim, fathul mu’iin, dan taqriib. Tak ada lelah dan bosan yang aku rasakan, suka cita dan semangat terus membakar segala potensiku. Beruntung tidak ada tarif khusus untuk biaya tinggal di kobong tersebut. Termasuk pelajaran tambahan yang diberikan setelah magrib itu, semuanya benar-benar tidak ada tarif yang ditetapkan. Kalau musim durian kami biasanya membawakan durian, atau gula aren untuk guru kami. Bagi yang punya banyak padi, biasanya membawakan beras untuk mereka. Ya…itulah bayaran yang bisa kami berikan. Untuk urusan perut, biasanya aku dan kawan yang lain masak sendiri. Ya meski aku lelaki, aku sering memasak untuk makan pagi, siang, dan malam. Memasaknya diatas tungku yang berbahan bakar kayu bakar. Tak ada peralatan modern. Semuanya dilakukan dengan manual dan tradisional. Biasanya kami selalu bikin nasi liwet dengan lauk seadanya. Kalau tidak ada… ya, nasi diaduk garam saja sudah cukup.
Banyak hal yang sudah aku lakukan di kobong dan di MTs sekolahku. Tak terasa, sudah masuk bulan kedua aku bersekolah. Namun kesedihanku tidak sampai hanya pada ketiadaan biaya saja. Di bulan ke dua ini, kondisinya lebih parah. Bukan karena aku tidak mampu membayar biaya sekolah. Ini masalah ayahku. Ayah yang sudah lama mengidap penyakit, karena ketiadaan biaya untuk pengobatan, terpaksa ayah harus menahan dan membiarkan penyakit bersarang ditubuhnya. Hari itu, aku mendengar kabar terburuk sepanjang hidupku.  Ayahku meninggal!!! Aku sangat terpukul sekali, sempat ada wasiat sebelum kepergiannya, “lamun keukeuh hayang terus sakola, jual bae eta sawah anu ngeun sabebecek”[3]. Wasiat yang membuat aku lesu, bagaimana mungkin aku menjual sawah itu. Sawah yang satu-satunya sumber padi bagi kami sekeluarga. Menjual sawah berarti menambah penderitaan. Jika aku melakukannya betapa egoisnya aku. Tidak!!! aku tidak ingin menjual sawah itu. Aku, akan berjuang bagaimana sekolahku terus dan sawah itu tidak dijual.
Seminggu setelah kepergian ayah. Aku masih belum berbuat banyak. Salah satu adik perempuanku yang sudah hampir lulus dari SD begitu terlihat tegar. Dia tetap bersekolah mesti duka menyelimuti. Memang beberapa hari setelah kepergian ayah, tak ada gorengan yang bisa dijual. Emak tidak membuatnya, badannya masih lemas diselimuti duka. Aku belum kembali ke kobong dan bersekolah seperti biasa. Kebingungan menyelimuti kembali. Sekolah dengan biaya jual sawah atau berhenti menjadi kuli. Dua pilihan yang menyayat hati. Apapun yang terjadi aku harus segera kembali. Akan ku ceritakan semuanya kepada guruku, keputusan akhir ku serahkan pada beliau. Aku akan menerima apapun yang disarankan beliau, aku yakin akan ada keputusan terbaik bagiku dan masa depanku.
Benar saja, tak terbayang sedikit pun ide untuk itu, guruku menawarkan agar aku berjualan saja. Berjualan??? Bagaimana dengan sekolahku? Ternyata aku masih bisa bersekolah, hanya setiap hari sabtu aku diberi izin khusus untuk tidak masuk sekolah dan berjualan di pasar. Aku dikenalkan kepada seorang pemilik toko kelontongan. Tidak ada modal sepeserpun yang aku miliki. Hanya dengan modal kejujuran. Dengan sistem konsinyasi atau mengambil barang terlebih dahulu. Dengan ramah pemilik toko kelontongan tersebut menerimaku. Dia memberikan barang-barang sesuai dengan kebutuhan pasar. Di hari sabtu, sesuai yang di janjikan. Untuk pertama kalinya aku berjualan di pasar. Tidak ada rasa malu atau sedih karena meninggalkan sekolah. Yang terpikir, bagaimana bisa meneruskan sekolah dan membiayai kedua adik perempuan dan Emak di rumah.
Fanastis!!! Hari pertama berjualan, barang daganganku terjual habis. Pemilik toko merasa sangat senang dengan usahaku, beliau memberikan upah dan bonus tambahan reskio dapur yang bisa  aku bawa ke rumah. Seperti biasa, setiap hari minggu, tepatnya hari libur aku harus pulang. Kali ini tanganku tidak kosong, ku jinjing plastik hitam berisi ikan asin, garam, bawang, terasi, terigu dan minyak. Dengan bangga dan wajah lebih cerah dari pada minggu-minggu sebelumnya. Dengan suka cita, Emak dan kedua adikku menyambutku. Terucap rasa syukur dari mulut mereka, tergambar rasa bangga dari wajah mereka. Keyakinan untuk dapat meneruskan pendididikan setinggi-tingginya semakin kuat. Tak hanya aku, kedua adikku ingin sepertiku. Meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.
Begitu seterusnya kegiatanku, semakin lama berjualan, dengan untung dan ruginya. Lama-kelamaan aku bisa membawa barang lebih banyak ke rumah. Dengan inisiatif yang cerdik, Emak menaruh barang-barang itu di lemari kaca, dan kalau ada tetangga yang membutuhkan dijualnya kepada mereka. Semakin lama, warung lemari kaca itu, berubah menjadi warung kecil kelontongan. Adikku yang satu, sudah lulus. Tak terasa, aku sudah kelas tiga. Artinya hanya satu tahun lagi aku akan lulus dari MTs. lagi-lagi kemana akan ku teruskan sekolahku. Biaya yang dibutuhkan akan semakin besar, ditambah adikku yang akan masuk MTs juga, seperti jejakku.” Paparmu panjang lebar.
Detak jarum jam terdengar syahdu mengiringi ceritamu. Kami masih duduk rapi di depan meja bundar besar di ruang makan. Selepas makan malam kami belum beranjak. Saat mata tertuju pada jarum jam menunjukkan pukul 23.49 WIB. “Apa[4], tidur dulu yuk, nanti ceritanya dilanjutkan lagi.”Pintaku pada ayah.***
Diam-diam, ku mengagumimu
Ceritamu menginspirasiku
Sejarahmu pelajaran untukku
Perjuanganmu tenaga bagiku
Kesuksesanmu hadiah termahal untukku
Oh, ayahku…
Surga layak untukmu


Bandung-Oren House, 22 Mei 2011


[1] Kenapa tidak kerja saja, hasilnya bisa dinikmati untuk makan
[2] Pondok tradisonal yang terbuat dari bilik dan kayu
[3] kalau tetap ingin sekolah, jual saja sawah yang hanya sepetak itu
[4] Panggilanku pada ayah